YOGYAKARTA, DIY — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisasi seni visual, Model nDeso Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan nama MDY, tetap konsisten menjadi ruang kreatif yang menghidupkan budaya Nusantara melalui karya fotografi konsep budaya yang artistik, edukatif, dan sarat makna.
Komunitas yang berbasis di Yogyakarta, DIY ini berdiri sejak tahun 2008 atas prakarsa Cithoet bersama almarhum Totok Anwasito. Sejak awal berdiri, MDY hadir sebagai wadah yang mempertemukan fotografer, talent, seniman, penggiat sejarah, penggiat seni, pekerja seni, hingga pecinta budaya dalam satu visi besar, yakni menjaga dan melestarikan budaya melalui media visual fotografi.
Kini, kepemimpinan MDY berada di bawah Cithoet yang sekaligus menjadi ketua utama serta konseptor berbagai karya budaya yang dihadirkan komunitas tersebut. Di bawah arah kreatifnya, MDY terus berkembang sebagai komunitas fotografi budaya yang aktif menghadirkan konsep-konsep visual dengan kekuatan cerita lokal dan nilai budaya Nusantara.
Berbeda dengan komunitas fotografi pada umumnya, MDY memiliki karakter kuat dalam mengangkat cerita-cerita budaya lokal menjadi karya visual bernilai artistik tinggi. Setiap konsep yang dihadirkan tidak hanya menampilkan estetika visual, tetapi juga menyampaikan pesan budaya, nilai sejarah, filosofi kehidupan, hingga cerita rakyat yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat pada jamannya.
Semangat “Salam Budaya, Lestari Budayaku” menjadi identitas yang terus dijaga dalam setiap perjalanan dan karya komunitas tersebut.
Pada masa awal perjalanannya, MDY dikenal luas karena keberaniannya mengangkat talent berusia lanjut sebagai ikon utama dalam karya fotografi budaya. Langkah tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap generasi terdahulu yang dianggap memiliki pengalaman hidup, nilai filosofi, dan kekayaan budaya yang kuat.
Seiring waktu, komunitas ini berkembang dari kegiatan non-profit menuju sistem yang lebih profesional. Transformasi tersebut dilakukan demi menjaga keberlangsungan komunitas sekaligus menciptakan keseimbangan dengan komunitas kreatif lainnya.
Menariknya, sebagian besar anggota MDY memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman di bidang budaya, sejarah, seni musik, teater, Pekerja dan Penggiat Seni, hingga Fotografer Profesional. Bahkan, sejumlah fotografer yang tergabung di dalamnya telah meraih prestasi dan penghargaan dalam berbagai ajang lomba fotografi tingkat regional maupun nasional.
Enam tahun lalu, seluruh anggota MDY bersepakat menotariskan kegiatan fotografi konsep budaya sebagai bentuk keseriusan dalam menjaga eksistensi dan legalitas komunitas. Langkah tersebut memperkuat posisi MDY sebagai komunitas resmi dalam aktifitas budaya dengan visi jangka panjang dalam pelestarian budaya lokal dan Nusantara.
Dalam perkembangannya, MDY kini dipercaya oleh berbagai desa maupun kampung di wilayah Yogyakarta, DIY dan luar daerah untuk mendokumentasikan sejarah kampung melalui konsep fotografi budaya. Hasil karya tersebut tidak hanya menjadi dokumentasi visual, tetapi juga arsip budaya yang merekam identitas, tradisi, dan perjalanan masyarakat setempat.
Berbagai karya konsep budaya yang pernah digarap MDY di antaranya:
- Sasana Jemparingan Se-DIY
- Suminten Edan
- Lintas Agama
- Sebaran Apem
- Tayub
- Tari Kecak
- Gajah Mada
- Anggara Kasih
- Lintas Budaya
- Kali Sriti
- Hamengkubuwono V
- Biksu Tudong
- Panglima Burung
- Mitoni
- Siraman
- Tedak Siten
- Nyapih
- Gua Sengok
- Tosan Aji
- Pasar Tiban
- Pasar Hewan
- Merti Bumi
- Pasar Bubrah
- Pande Besi
- Nyanting
- Kriya
- Labuhan Alit
- Ringin Kuning
- Penambang Batu Bara
- Pembuat Gula Aren
- Sang Penari
- Kupatan Jolosutro di Srimulyo Piyungan Bantul Yogyakarta
- The Last Samurai
- Resapan Budaya
- Noni Belanda
- Pepunden
- Tari Topeng
- Putri Gondo Arum
- Sanggar Bambu
- Kemerdekaan yang Tertinggal
- Supitan
- Jogun-IANFU
- dan berbagai karya budaya lainnya.
Melalui setiap karya yang dihasilkan, MDY menegaskan komitmennya untuk menghadirkan karya budaya yang santun, edukatif, dan bermartabat tanpa unsur pornoaksi, pornografi, maupun isu SARA.
Kini, MDY telah memiliki sanggar sekaligus sekretariat di kawasan Badran, Yogyakarta, DIY. Tempat tersebut menjadi pusat aktivitas komunitas, mulai dari diskusi budaya, proses kreatif fotografi, pelatihan talent, hingga pengembangan seni budaya lintas generasi.
MDY juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk bergabung tanpa batas usia, baik generasi muda maupun usia lanjut. Proses bergabung dilakukan secara terbuka tanpa prosedur administrasi yang rumit, sehingga siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap seni dan budaya dapat ikut terlibat.
Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, MDY hadir bukan sekadar sebagai komunitas fotografi, melainkan juga sebagai penjaga nilai budaya yang terus menghidupkan cerita Nusantara melalui lensa dan karya visual.